Rusdiansyah, pengrajin gula habang di Desa Batilai, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanahlaut, menuang gula aren bercampur santan kara yang masak kedalam cetakan mangkok plastik sebelum dipasarkan, belum lama ini. Produksi gula habang atau gula aren buatan keluarga Rusdiansyah alias Dian menggunakan campuran dari santan kemasan. Itu agar gula aren memiliki rasa berbeda dan tampilan gula padatnya tak tercampur dengan ampas santan. Kebanyakan santan yang dicampurkan menggunakan santan parutan dari kelapa. Hemat memang, satu biji kelapa tua yang diolah santan mampu beberapa kali digunakan untuk mengolah gula habang. "Cuma kualitas gula habang dikeluhkan pelanggan karena bercampur ampas santan," ujar Dewi Astuti istri Dian. Produksi gula aren atau gula habang buatan Rusdiansyah dan istrinya Dewi Astuti memilih santan kemasan pabrik atau santan kara. Kegunaan santan dalam mengolah gula habang itu mencegah agar saat memasak gula aren kalau mendidih tidak tumpah keluar dari wajan pengolahan. "Santan kara itu dicampur air agar sewaktu mendidih adukan gula tetap di wajan tidak tumpah," ujar Dewi Astuti. Menurut Astuti, santan kemasan itu dibelinya agar praktis dibanding harus memarut kelapa untuk memgolah santan. Santan dari parutan kelapa itu terpandang membuat kualitas gula habang kurang bagus karena sedikit banyak ampas santan itu masuk dalam adonan gula habang. "Kalau rasa dan bentuknya sama saja. Rasa gula habang manis dan bentuknya ada gula habang sungkul, gula habang mangkok dan gula habang bolu kukus," katanya. Gula habang sungkul itu adonan gula habang yang didinginkan di wadah tempaat terbuat dari kayu ulin, gula habang mangkok, wadah atau tempat gula dari mangkok dan gula habanv bolu kukus itu tempat ceyakannya memakai cetakan kue bolu kukus. Dewi Astuti mengaku jika produksinya dengan produksi gula tetangga tidak berbeda dalam bentuk dan cara mengolah gula aren. Bedanya hanya penggunaan santan dari santan kemasan, air gula habang diutamakan dari kembang yang muda atau air yang keluar dari kembang yang permulaan tumbuh. "Kalau bunga itu sudah dua hingga tiga kali diambil air arennya memang hasilnya tidak banyak dalam satu hari dan rasa manisnya juga menurun. Ini mempengaruhi kualitas rasa gula habang," ujarnya. Beruntung, Rusdiansyah tetap stabil dalam memproduksi gula habang. Itu karena memiliki kebun pohon tersendiri sehingga air aren dari kembang yang tumbuh pertama kali setiap saat dapat dipanennya. Ada ribuan pohon aren yang dirawat Dian dan setiap hari didatangi untuk melihat air aren yang disampingnya dalam jerigen isi 20 liter. "Suami saya hati ini memetik buah arennya untuk diolah buah kolangkaling. Hari ini tidak memasak gula habang karena perminyaan buah kolangkaling," ujar Dewi. Dian mengaku setiap hari ada yang membeli air aren yang dimasukkan untuk kebutuhan pengobatan tradisional penderita diabetes. Kemudian, buah kolangkaling untuk mencukupi permintaan pasar karena buah kolangkaling untuk campuran minuman es dan selebihnya untuk bahan gula habang. (banjarmasinpost.co.id/ Mukhtar Wahid). Sumber : http://banjarmasin.tribunnews.com |